Singosari, 24/07/2018. Tugas seorang guru bukan hanya mentransfer ilmu, melainkan juga mentransfer hati. Transfer hati juga perlu hati-hati agar siswa yang diajarnya mau membuka hati untuk menerima materi dan ilmu yang telah dibagi. Hal tersebut yang diungkapkan oleh Bapak Profesor Muhammad Amin dalam kuliah tamu peningkatan kompetensi guru mata pelajaran umum di auditorium SMK Negeri 1 Singosari.

Acara yang bertemakan “ Sadar Berprofesi Guru, sadar literasi, dan sadar berkreasi ini menyedot antusias dan semangat para guru mata pelajaran umum. Menurut Prof. Amin, dosen Biologi, FMIPA Universitas Negeri Malang cara membangun kesadaran profesi dan literasi titik tumpunya berada pada hati. Hati yang mampu menggerakkan kesadaran para guru dalam menekuni profesi mulia.

Ada tiga cara dalam membangun kedasaran profesi melalui hati. Pertama, membangun hati. Butuh pendekatan khusus dalam membangun hati antar guru dan siswa, yakni selalu mendukung dan memahami setiap keadaan serta kebutuhan siswa. Kedua, menggerakkan seluruh aktivitas. Seluruh aktivitas guru akan berjalan sesuai dengan tujuan jika guru bergerak melalui hati. Ketiga, mari mendidik dengan hati-hati. Caranya, melalui memanusiakan hubungan antar guru dan siswa. Memanusiakan hubungan guru dan siswa dapat dilakukan dengan hal-hal kecil seperti memberi apresiasi dalam setiap tahap belajar anak. Pemberian apresiasi tidak selalu dalam bentuk reward/ hadiah melainkan penghargaan verbal, seperti ucapan terima kasih, saya bangga padamu, dan saya yakin kamu bisa serta memberi pujian atas sikap positif apa saja yang telah siswa lakukan. Contohnya, bagus sekali hari ini kamu sudah belajar tidak terlambat lagi seperti minggu lalu, perlu dipertahankan dan dijaga. Berusaha tidak menghakimi saat anak melakukan kesalahan, melainkan merefleksi, dan membangun disiplin positif.

Selain itu, Prof.Amin juga menyampaikan ada cara lain yang mampu dilakukan dalam membangun dan mengembangkan sadar literasi dan kreasi adalah melalui saintifik literasi. Saintifik literasi adalah keterampilan bernalar dalam konteks sosial dan menekankan bahwa literasi sains diperuntukkan bagi semua orang, baik orang yang berkarir dalam bidang sains maupun tidak. Oleh karena itu, saintifik sains ini mampu menjembatani antara pemikiran guru dan siswa agar penyampaian materi mudah dipahami melalui penalaran berpikir kritis. Pemikiran kritis ini juga tetap didasari oleh hati, agar mampu mencetak cendikiawan cerdas Indonesia yang tetap berkarakter mulia.